Pantai Kedu, Kalianda di Masa New Normal


Oleh Agit Yogi Subandi

Pada tanggal 1 Agustus 2020, sehari setelah Hari Raya Idul Adha 1441 H, kami sekeluarga jalan-jalan ke Pantai Kedu, Kalianda, Lampung Selatan. Kehati-hatian terhadap Covid 19 tetap ada di dalam diri kami. Rasa takut tetap ada, hingga kami tetap mengenakan masker, untuk mencegah terturalrnya virus yang mengerikan itu. Suasana New Normal sangat terlihat pada liburan kali ini.

Bicara soal pantai, Lampung tentu sangat kaya akan hal ini. Menjadikan pantai sebagai destinasi wisata saat liburan memang menjadi pilihan yang tepat kususnya bagian kalian yang ingin menikmati Setiap keindahan alam, khususnya panorama pantai dan laut. Indonesia yang merupakan negara kepulauan tentu memiliki banyak pantai yang tersebar di hampir seluruh kawasan di Indonesia. Salah satu Provinsi yang bisa menjadi tujuan wisata teman-teman sekalian adalah Provinsi Lampung. 

Provinsi Lampung ini terletak di bagian selatan Pulau Sumatera, dan banyak dijadikan oleh para wisatawan sebagai tujuan utama berwisata pantai. Banyak pantai bisa teman-teman temukan di kawasan Lampung ini. Nah, kali ini, kami berwisata ke salah satu kabupaten di Lampung, yaitu Kalianda. 

Rute untuk menuju ke pantai ini, apabila kalian dari arah Bandar Lampung, kira-kira dapat ditempuh kurang lebih satu jam perjalanan. Dari Bandar Lampung, kalian bisa menuju ke Kalianda melalui tol atau melalui jalan biasa. 

Kalau melalui tol Kota Baru, dari Bandar Lampung, kalian bisa langsung menuju pintu tol di Kota Baru, kemudian menuju pintu tol keluar di Kalianda. Kalau melewati jalan biasa, dari Bandar Lampung, kalian bisa mengambil arah menuju Panjang, Tarahan, terus hingga kalian hingga memasuki kawasan Kalianda. 
 

Nah, untuk kalian yang dari arah Bakauheni, kalian dapat terus mengikuti jalan biasa hingga ke Kalianda, begitu juga kalau melalui tol, kalian bisa keluar di pintu tol Kalianda. Aksesnya cukup mudah bukan.

Setelah kalian masuk ke kawasan Kalianda, kalian akan menemukan tugu Adipura Kalianda, lalu kalian terus saja, sampai bertemu sebuah portal di sebelah kanan jalan, yang bertuliskan Pantai Kedu. Wisata ini sebenarnya ada di dalam pemukiman warga di sana. 


Kawasan Pantai Kedu
Memasuki kawasan Pantai Kedu ini, kalian bisa melihat pemukiman warga, kebun-kebun dan tentu saja pantai. Jalannya cukup lebar untuk dua mobil, dan sudah diaspal. Sepertinya memang sudah dijadikan destinasi wisata.

Menariknya, di sini ada banyak pantai yang sudah dikelola maupun yang belum dikelola. Untuk Pantai yang sudah dikelola ini ada Pantai Kedu, Pantai Kedu Warna, dan pantai yang masih belum dikelola, dan untuk yang disebutkan terakhir ini, kalian bisa menikmati panorama pantai tanpa membayar dan letaknya ada di paling ujung di sepanjang pantai ini. Akan tetapi, tidak ada tempat berlindung dari teriknya matahari di pantai ini. Namun, orang-orang ramai berkunjung di sana. Mobil-mobil mereka diparkir di tepi-tepi pantai itu, dan membuat semacam tempat berteduh dengan kain dan sebagainya. 

'Nyate' di Tepi Pantai
Jalan-jalan ke pantai kami kali ini, sebenarnya adalah untuk 'nyate' daging kurban. Sengaja kami memanggangnya di pantai, supaya lebih terasa kebersamaannya bersama keluarga, supaya makin erat dan kompak. 

Karena pantai yang letaknya di ujung ini tidak ada tempat berteduh, jadinya kami memilih untuk pindah tempat. Tadinya salah seorang dari kami menawarkan tempat, yaitu pantai Cantik, namun, karena hari semakin siang, dan tempatnya cukup jauh dari kawasan ini, kami akhirnya memutuskan untuk berhenti di Pantai Kedu, yaitu tempat yang pertama kali ditemui dari pintu masuk kawasan ini.

Masuk ke Pantai Kedu ini, biayanya Rp. 5000 per orang, dan tiket parkir mobil yaitu Rp. 20.000; Lumayan ya, untuk berwisata pantai. 

Tempatnya bersih dan ada pemandangan kapal terbalik. Pantainya cukup panjang. Sepertinya bisa untuk kejar-kejaran kalau lagi sama anak-anak. 

Nah, setelah sampai di tempat ini, kami langsung menurunkan barang-barang logistik untuk santap siang. Kami juga membawa tikar, arang, kompor portable, air minum, dan bahan makanan, yaitu nasi dan daging kurban yang tinggal dipanggang, alat pemanggang dan arang.

Sayang sekali, begitu kami meletakkan barang-barang di tepi pantai, seorang penjaga datang dan memberitahu kalau mau memanggang atau bakar-bakaran, bisa dilakukan di pojokan pantai. Tapi, ya sudahlah, karena alasannya adalah kepentingan bersama, maka kami ikut saja. Seandainya bisa memanggang sate di tepi pantainya, dekat dengan tikar-tikar kami, tentu suasananya akan menjadi lebih asik. 

Kami akhirnya menyiapkan perapian untuk memanggang, dan setelah lama, akhirnya proses pemanggangan selesai, dan bau daging panggang dan bumbunya itu rasanya sudah menjilat usus kami yang sudah kering.

Makan Siang bersama Keluarga di Tepi Pantai
Akhirnya kami menyantap makan siang kami dengan sangat lahap. Sate yang banyak itu, ludes tak bersisa. Sungguh kami telah menjadi orang-orang yang kelaparan. 

Nah, selagi kami makan itu, tiba-tiba beberapa petugas, Babinsa TNI, datang menemui para pengunjung, untuk memperingatkan bahaya Covid 19 di kawasan itu. Orang-orangnya ramah dan penuh canda. Mereka mengajak orang-orang itu untuk tetap mengenakan masker, ya mengikuti protokol kesehatan seperti biasa. tak lama kemudian, mereka akhirnya pamit dan menemui pengunjung yang lain. dan tak lupa juga, kami menawarkan mereka untuk makan bersama. tapi mereka sepertinya mengerti, makanan kami sudah hampir habis.

setelah usai makan siang, kami akhirnya berberes dan mebuang sampah-sampah bekas makanan ke dalam tong sampah. dan seperti biasa, tubuh kami semua lemas dan rasanya ingin berbaring. Ah, kebiasaan yang buruk, nih. 

Matahari begitu terik, Sesi Foto-Foto dimulai
Setelah makan siang yang mengenyangkan itu, kami akhirnya memutuskan untuk duduk dan berkumpul di gardu tepi pantai. Sembari mengumpulkan tenaga kembali. 

Kami menuju tepian pantai dan mulai berfoto bersama. Saling bergantian dan penuh gaya. Oh, iya, spot foto yang menarik di pantai kedu ini adalah kapal yang terbalik itu. Kapal itu sudah dilukis, diwarnai, sehingga menjadi menarik. 


Kalian juga dapat beswafoto di tepian pantai, ketika ombaknya sedang bergulung-gulung ke pantainya. Lanskap yang luas dan langit yang cerah. Kabarnya, di sini juga ada sunset. Sayang kami tak sempat melihat sunset, karena kami harus pulang ke Bandar Lampung sebelum sore tiba.

Setelah berfoto itu, kami akhirnya berkemas pulang. Semoga suatu saat dapat ke pantai ini lagi. 

untuk kalian yang mau berwisata ke pantai ini, tempatnya bagus untuk berswafoto atau menikmati angin pantai, melihat pemandangan dan bersantai bersama rekan-rekan, keluarga atau pacar. hehe. Semoga liburan kalian mengasyikan juga.

Salam.






No comments:

Post a Comment